Asal Usul Nama Kecamatan Teluk Naga Tangerang – Bersama Ka Cengeng

Posted on

Assalamualaikum…hallo.. adik-adik yang ada diwilayah Tangerang dan sekitarnya kali ini Ka Cengeng akan menceritakan tentang Asal Usul Nama Kecamatan Teluk Naga yang berada di wilayah kota Tangerang. Pasti kebanyakan dari adik-adik banyak yang belum tahu,kenapa sih Kecamatan Teluk Naga di namakan Teluk Naga? Biar tidak penasaran sekarang Ka Cengeng akan mulai ceritanya,disimak baik-baik ya.


Pada zaman dahulu kala, mungkin pada ribuan tahun yang lalu, hiduplah dua ekor ular bersaudara, adik dan kakak yang dipercaya sebagai penunggu Sungai Cisadane. Keduanya saling berlomba-lomba dalam ilmu kedigjayaan. San Adik bernama Gede, konon yang akan dijadikan sebagai calon penguasa Gunung Gede. Sementara sang Kakak yang bernama Naga, yang akan dijadikan sebagai calon penguasa pesisir laut utara tanah Banten, tepatnya di kawasan pesisir pantai Teluk Naga, Tangerang.

Gambar hanya illustrasi

Kedua ular bersuadara ini merupakan titisan Dewa Ananta (Ular) yang nantinya akan mendapatkan tugas kusus menjaga aliran sepanjang sungai Cisadane. Sang Adik bertugas sebagai pengatur sumber mata air, sementara sang Kakak sebagai pengatur pertemuan air darat dengan laut di muara. Selain itu, tugas sang Kakak juga mencegah air laut agar tidak masuk ke daratan.

Sebelum melaksanakan tugas berat itu, keduanya harus membekali diri dengan ilmu kesaktian. Untuk mendapatkan kesaktian, mereka harus bertapa seorang diri terlebih dahulu selama 1.000 (seribu) tahun. Dewa Ananta meminta agar pertapaan itu dilakukan di kaki Gunung Gede, Bogor, Jawa Barat, lokasi calon kekuasaan sang adik yang bernama Gede, sebelum nantinya keduanya harus berpisah menempati daerah kekuasaan masing-masing.

Pada suatu hari, setelah mereka sudah menjalani pertapaan selama 100 tahun, keduanya ingin keluar sebentar, sekedar untukberjemur sambil menikmatinya hangatnya sinar matahari, masuk ke dalam tubuhnya sebagaimana biasa dilakukan ular pada umumnya.
Namun, sebelum mereka kembali memasuki gua pertapaan, Sang Kakak yang bernama Naga ingin mengethaui kesaktian apa saja yang sudah di dapatkan sang Adik, setelah selama 100 tahun bertapa.
Tatkala mereka sedang ingin berlatih , cuaca di Gunung Gede yang semula langitnya cerah, tiba-tiba mendadak berubah menjadi gelap-gulita dan petir-petir bersambaran.

Gambar hanya illustrasi

lalu sang Kakak berkata : “Adikku, tunjukkan kesaktianmu, kakak ingin tahu..” . Baiklah Kakak sahut sag Adik.
Begitu sang Adik akan mengeluarkan kesaktiannya, tiba-tiba magma di dalam perut Gurung Gede langsung bergejolak, dan disaat sang Adik menarik nafas dalam-dalam untuk mengeluarkan kekuatannya, tiba-tiba sang Kakak berteriak :“Hentikan adikku..!” pinta sang Kakak. Dia tidak bisa membayangkan gunung gede meletus, akan banyak korban berjatuhan karena lahar Gunung Gede itu, akan mampu menghancurkan apapun kehidupan yang ada di lereng gunung Gede dan sekitarnya, bahkan lebih jauh lagi.
Sekarang giliran sang Adik yang meminta kepada sang Kakak untuk menunjukan kesaktiannya. Ketika sang Kakak baru menarik nafas, tiba-tiba adiknya juga menghentikan sang Kakak, Ia melarang kakaknya karena khawatir kehancuran akan terjadi ketika dia telah menunjukkan kekuatannya.

Gambar hanya illustrasi

“Hentikan Kakak..!!” pinta sang Adik, Dia juga tidak dapat membayangkan jika seluruh kehidupan sepanjang Sungai Cisadane harus musnah karena terjangan banjir. Ketika sang Kakak menarik nafas, sumber mata air di bawah kaki Gunung Gede itu tiba-tiba berubah mengeluarkan air beribu-ribu lipat banyaknya.
Menyadari kesaktian masing- masing, sejak saat itu mereka bertekad untuk tidak menggunakan ilmunya secara sembarangan.

Waktu terus berlalu, tak terasa sudah seribu tahun lamanya Naga dan Gede bertapa. Kekuatan keduanya pun semakin sakti. Walaupun kadang kala sang Adik dibuat cemburu oleh sang Kakak, karena dari ketenangan dan keilmuwan kakaknya, sang Adik mengakui kalau Kakaknya lebih sakti di banding dirinya.
Besok adalah hari ke-seribu tahun mereka bersama. Sang Kakak tampaknya harus meninggalkan sang Adik. Kakaknya harus melaksanakan tugas dewata. Akhirnya mereka keluar dari pertapaan, dan inilah waktu yang tepat untuk sang Kakak mengatakan kepada adiknya salam perpisahan.
“Tumben, kakak banyak diam hari ini” sapa sang Adik, saat melihat kakaknya yang tampak tidak seperti biasanya sambil menikmati panasnya matahari.

Gambar hanya illustrasi

“Adikku, ada sesuatu yang ingin kakak sampaikan” ucap sang Kakak sambi menatap muka sang Adik. “Katakan saja Kakak, aku ini kan adikmu…” jawab san Adik. “Sebenarnya, hari ini aku harus pergi. Ada sesuatu yang harus aku lakukan” kata sang Kakak terasa berat ucapanya. “Pergi kemana kakak, aku ikut..!!” pinta sang Adik. “Tidak, adik harus tetap di sini” seperti takdir perintah Dewa Ananta, kamu adalah calon penunggu Gunung Gede. Tentunya, jika dia mengalanggarnya, tentu dewata akan murka. Sementara kakak harus pergi ke muara Cidane tempat Kakak melaksanakan perintah dewa.

“Kakak, aku tidak dapat hidup tanpamu..!!” kata sang adik memelas, seraya sangat takut kehilangan sang kakak, sebab memang selama ini hanya kakaknyalah yang membimbing dan mengarahkannya. “tidak Adiku, Sampai kapan kita seperti ini, kini sudah waktunya menjalan perintah..” tegas sang Kakak menyakinkan. Dia harus melaksanakan tugas dewata menjaga lautan sebelum ada murka.

Gambar hanya ilustrasi

Konon, saat Naga meninggalkan Gunung Gede, dia harus meluapkan Sungai Cisadane untuk mempermudah dan mempercepat tubuhnya menuju laut. Hal ini dikarenakan ukuran tubuhnya selama seribu tahun sama besarnya dengan sungai itu. Konon, saat Naga melintas ini pula, menjadi catatan sejarah sebab menjadi banjir untuk yang pertama kalinya sepanjang sejarah.

Setelah ratusan tahun mereka berpisah, suatu hari sang Adik merasa rindu tak tertahankan dengan kakaknya. Ia pun akhirnya meminta kepada Dewa Ananta untuk mengabulkan permintaannya.

“Dewa, aku sangat rindu kakakku” dia kebingungan apa yang harus dilakukan. Bahkan, saat berdoa sambil menangis ini, beberapa hari terjadi hujan lebat di daerah Gunung Gede. Sejumlah tebing konon juga banyak yang longsor.

“Pergilah..” dewa meminta satu syarat, perjalan ke laut harus malam hari, ketika mendengar ayam berkokok, dengan alasan apapun sang Adik harus sudah kembali kegunung Gede. Pada waktu itu, Dia sangat senang, dan Diapun bersiap-siap untuk berangkat.

Pada waktu itu, tiba-tiba terjadi hal di luar dugaan. Kemampuan memperbesar dan memperkecil sumber mata air adalah kekuatan milik kakaknya, sementara dia tidak dapat melakukan. Hal ini jelas, memperlambat perjalannya menyisiri sungai. Meski ragu akan tiba dilokasi dengan tepat waktu, diapun tetap memaksakan diri.

Gambar hanya ilustrasi

“Aku harus tetap berangkat” seolah kakaknya menunggu juga merasakan hal yang sama. Dia pun akhirnya berangkat dengan menyisiri Sungai Cisadane. Ahkirnya sang Adikpun sampai dimuara dimana sang kakak berada. “Kakak..!! bagaimana kabarmu..!!” tegur sang Adik. “Aku juga sangat rindu padamu..!!” jawab sang Kakak, kedua Naga itu saling meluapkan kerinduan, setelah ratusan tahun tak bertemu. Keduanya pun saling bercengkrama meluapkan rindu ratusan tahun tak bertemu.

Konon, ketika dua ular ini saling bercengkrama di sebuah teluk di pantai itu, tiba-tiba seseorang meliki kemampuan keilmuwan gaib lebih tanpa sengaja memergoki saat keduanya sedang bercengkrama. Hal inilah yang menjadi cikal bakal daerah yang bernama Teluk Naga. Kini menjadi salah satu wilayah administratif kecamatan di Kabupaten Tangerang. Yakni teluk yang mempertemukan dua naga kakak dan adik.

Saking asyiknya melepas rindu, tak terasa suara kokok ayam pun terdengar. Sang Adik harus segera pergi meninggalkan kakaknya. Namun sang Adik tak mau meninggalkan sang Kakak, tiba-tiba terdengarlah suara “Kembalilah segera kamu ke gunung Gede, waktumu habis” tegur dewata. “Tidak, aku masih rindu sam Kakaku” tolaknya,“Kembalilah..!!” balas sang Dewa “aku tidak mau…!!” Sang dewapun akhirnya murka.
Konon, ketika sang Adik yang bernama Gede itu tak mau kembali pada waktunya, sepanjang Sungai Cisadane mengalami banjir hebat. Dia tidak menyadari jika badannya yang panjang itu membujur di atas sungai. Padahal sungai itu memiliki ukuran sama dengan lebar tubuhnya. Secara tidak langsung, tubuhnya menghalangi air kiriman dari bogor menuju muara.

Gambar hanya illustrasi

Menurut cerita masyarakat, konon banjir terhebat terjadi di wilayah Tangerang Selatan. Hal ini dikarenakan, ukuran perut terbesar ular itu, tepatnya di daerah tikungan sungai Desa Lengkong, Serpong, Kota Tangerang Selatan. Bahkan ada cerita yang mengatakan, jika asal usul Desa Lengkong itu berasal dari liukan sungai tersebut, karena di sinilah ular itu badannya menyumbat tepat dibagian lenkungan sungai.
Penduduk pun hingga kini, seperti di Serpong, Kademangan, Lengkong, Kranggan, menilai jika sepanjang Sungai Cisadane, empat desa inilah yang paling dalam diantara daerah lainnya.
Adik-adik yang baik,begitulah kisah tentang Teluk Naga ini, dan itu hanya sebuah dongeng turun temurun yang belum tentu kebenarannya, hanya Tuhan yang Maha Tahu tentang kebenaran segala sesuatunya, cerita ini hanya bersifat untuk menambah khasanah dan wawasan saja.

sumber gambar : https://www.iglobalnews.co.id/wp-content/uploads/2017/11/Kecamatan-Teluknaga.jpg

Demikianlah Adik-adik Asal-usul Nama Kecamatan Teluk Naga Tangerang Banten, dan jangan lupa belajar ya. Seperti biasa Ke Cengeng mohon maaf bila ada kekeliruan dan kesalahan dalam artikel ini, mohon masukan dan kritikannya,terima kasih. Wassalamualaikum Warohamatullahi Wabarokatuh.

Bagi Adik-adik yang ingin mendengarkan versi audionya silahkan download disini.

Refrensi :
https://mohamadsholeh.wordpress.com/category/cerita-rakyat/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *