Dongeng Si Kupu-kupu dan Si Bunga – Bersama Ka Cengeng

Posted on

Dongeng Si Kupu-kupu dan Si Bunga– Pada zaman dahulu kala, di dalam sebuah hutan yang cukup lebat. Di dalam hutan itu terdapat bermacam-macam tumbuhan dengan buah-buahnya  yang manis dan ranum, sehingga banyak sekali  binatang-binatang  yang senang tinggal di dalam hutan tersebut. Dari hewan besar seperi gajah, harimau, rusa, panda, beruang, bahkan berbagai macam serangga.

Gambar hanya illustrasi, sumber gambar: file pribadi

Pada suatu waktu, hutan itu kedatangan seekor penghuni baru. Dia adalah si Ulit ulat. Tapi para binatang yang lain dan pohon-pohon yang ada di hutan itu sangat membencinya, karena dia mempunyai sifat yang sangat rakus dan di anggap tidak memiliki manfaat apapun untuk hutan itu. Dia sangat rakus dalam memakan daun-daunan, segala jenis daun Dia makan tanpa pandang bulu, sehingga banyak sekali pohon-pohon yang tidak mau dia tinggali oleh Si Ulit ini. Sehingga Si Ulit ini harus berpindah dari satu pohon ke pohon lain untuk mencari tempat tinggal dan makanan.

Pada suatu hari Si Ulil berkata kapada pohon Apel

Wahai pohon apel, bolehkah aku ikut tinggal di atas dahan-dahanmu ini?”. Tanya Si Ulit.
Tidak..!!! kamu tidak boleh tinggal di atas dahan-dahanku ini,  Kamu ini terlalu rakus, kalu kamu terlalu banyak memakan daun-daunku, bisa-bisa aku tidak akan dapat berbuah lagi. Cari saja  pohon lainya..”. kata pohon apel dengan ketusnya.
Tapi aku janji, suatu saat pasti aku akan membalas budi baikmu. Izinkan aku tinggal di sini ya apel, sebab aku sudah tak lagi memiliki rumah lain”. Kata Si Ulit memohon.

Pokoknya tidak boleh, sekali tidak boleh ya tidak boleh..!! sebab pastinya  hewan lainpun yang ikut tinggal di pohon ku ini tidak akan setuju kalau kamu tinggal disini. Karena kalau kamu tinggal disini buahku akan berkurang dan jika buah ku berkurang, maka mereka juga akan kekurangan makanan. Lagi pula apa yang bisa kamu lakukan disini? Hey mahluk jelek dan lemah seperti mu tak bisa melakukan apa-apa selain makan dan makan saja,  pergi san dan cari pohon yang lain”. Kata pohon apel dengan membentak.

Ahirnya dengan sedih Si Ulit pun pergi mencari pohon lain yang mau dia tinggali. Tapi ternyata semua jawaban tiap pohon yang di temuinya jawabannya sama semua, mereka tidak ada yang mau menerima Si Ulit. Ahirnya.. Si Ulit memutuskan untuk keluar dari hutan menuju ke pinggiran hutan. Si Ulit pun menangis, Dia sangat sedih dengan nasib yang di alaminya. Dalam keadaaan seperti itu, tanpa dia sadari oleh Si Ulit, ada sebuah pohon bunga matahari yang dari tadi memerhatikan Si Ulit.

“Mengapa kamu menangis teman…?” Si Ulit terperanjat kaget, karena tiba=tiba ada yang bartanya padanya. “Si..si..siapa itu yang berbicara”.Tanya Si Ulit terbata-bata.

“Aku yang bicara.. coba kamu lihat ke atas!! Aku adalah pohon bunga matahari. Aku adalah ratu dari semua bunga yang ada di padang ini”. Jawab pohon bunga matahari.

“Katakanlah apa masalah mu, sehingga kamu bersedih seperti itu, mudah-mudahan aku bisa membantumu”. Kata pohon bunga matahari denga penuh iba.

Kemudian Si Ulit pun menceritakan apa yang di alaminya sambil menangis. Mendengar cerita Si Ulit yang sangat mengharukan, bunga matahari menjadi sangat iba terhadap Si Ulit.
“Kamu tidak usah menangis lagi .. kamu boleh kok tinggal di sini. Kamu boleh memilih tinggal di pohon ku, atau pohon bunga manapun yang kamu mau. Mereka semua tidak akan menolak kamu , karena mereka adalah rakyat ku”. Kata bunga matahari.
Mendengar jawaban dari bunga matahari, Si Ulit menjadi sangat senang. Dia tersenyum dan menghapus air mata di pipinya.
“Benarkah itu , apaaku tidak salah dengar?”. Tanya Si Ulit seakan-akan tak percaya.
“Tentu saja benar.. aku tak pernah bohong. Perlu kamu ketahui, tidak ada satu hewanpun yang mau tinggal di pohon atau dahan kami, karena kami tak memiliki buah. Jika kau mau tinggal di sini, tentu aku akan merasa senang karena memiliki teman baru”. Jawab bunga matahari .

Tapi Bunga.. kata mereka aku orangnya rakus, dan banyak makan. Sampai-sampai mereka tidak mau menerima aku untuk tinggal di dahan mereka. Mereka takut kalau daun mereka habis di makan oleh ku dan tak bisa berbuah. Apa kamu tidak takut kalau daun mu habis seperti yang mereka katakan?”. Tanya Ulit penuh keraguan.

“Hehehe.. itukan menurut pemikiran mereka,pikiran mereka terlalu sempit. Apalah arti sebuah daun? Seorang teman lebih berharga dan susah untuk di cari. Sedangkan daun dapat tumbuh lagi dengan sendirinya. Kamu tidak  perlu hawatir teman..”. jawab bunga matahari dengan bijak.

Si  Ulit sangat senang mendengar jawaban yang sangat bijak dari si Bunga matahari itu. Dan mulai saat itu, Si Ulit dan bunga matahari menjadi sahabat karib. Tiap hari mereka selalu bercanda, bersenda gurau dan bercerita tentang segala hal. Dan itu merupakan hari-hari yang terindah yang di lalui kedua sahabat tersebut. Hingga pada suatu hari..
“Bunga …sahabat ku.. ini adalah hari terahir aku bisa bercanda dengan mu.. “. Kata Si Ulit.
Mendengar perkataan sahabatnya itu, bunga matahari terkejut.

“Kenapa Ulit…Memangnya kamu mau ke mana ? Apa kamu mau pergi mennggal kan aku?” Tanya bunga matahari.

“Tidak sahabat ku.. aku tak akan mungkin meninggalkan sahabat sebaik diri mu. Aku hanya ingin berpamitan saja padamu.. mungkin mulai besok aku akan berpuasa dan mengurung diri ku untuk melakukan tidur yang amat panjang. Mungkin sudah saatnya aku mulai membalas semua budi baik mu padaku ”. Jawab Si Ulit .

” Apa yang kau maksud kamu dengan berpuasa? Tidur panjang? Membalas budi? Aku sama sekali tidak mengerti apa maksud perkatanmu itu..”. kata bunga matahari bingung.

“Kamu akan mengerti pada waktunya nanti, untuk sementara, aku akan meminjam dahan mu untuk membangun rumah ku dalam berpuasa.. aku harap kamu mengizinkanya”. Kata Si Ulit.

“Pasti..aku pasti mengizinkannya, apapun yang terbaik untuk mu , aku pasti mendukung mu sobat..”. jawab bunga matahari.

Kemudian, Si Ulit pun mulai membuat rumahnya untuk persiapan berpuasa. Dia membungkus diri dalam balutan benang-benang halus yang membentuk sebuah kantung, atau yang sering kita sebut dengan nama kepompong. Selama berhari-hari bunga matahari merawat dan menunggu sahabatnya itu dengan setia. Si Bunga melindunginya dari panas, angin, dan juga hujan. Dan tibalah saatnya untuk si Ulit bangun dari tidur panjangnya.

Namun betapa terkejutnya bunga matahari, karena yang dia lihat bukanlah Su Ulit ulat sahabatnya yang keluar dari kepompong itu. Melainkan seekor mahluk indah bersayap yang sangat indah dan cantik yang bisa terbang kesana kemari, bukan mahluk yang merayap.

“Siapa kau? Di mana Si Ulit, ulat sahabat ku itu?”. Tanya bunga matahari kebingungan.
“Akulah Si Ulit ulat sahabat mu kawan. Kau tidak perlu aneh dan heran. Sekarang akan aku jelaskan padamu, Setelah aku berpuasa dan tidur dalam kepompong ini, aku akan berubah menjadi seekor kupu-kupu. Aku suka makan banyak sewaktu akau masih menjadi ulat, tujuannya adalah untuk bekal puasa ku untuk berubah menjadi kupu-kupu. Tapi mereka teman-teman pohon di hutan itu tidak tahu akan hal itu, mereka hanya berperasangka buruk padaku. Dan sekarang saatnya aku membalas budi baikmu, aku akan membantu penyerbukan di atas putik sari bungamu dan semua rakyat bunga mu”. Jawab Kupu-kupu yang ternyata Si Ulit ulat itu.

Mendengar penjelasan yang panjang lebar dari Si Ulit yang sekarang sudah menjadi kupu-kupu, Si bunga matahari menjadi sangat senang dan bahagia. Ternyata sahabatnya itu mempunyai kemampuan yang hebat , unik dan luar biasa. Sebuah kemampuan yang tak di miliki oleh hewan lainya. Dan mulai saat itu, persahabatan mereka menjadi semakin akrab. Dan persahabatan mereka terus berlanjut sampai anak cucu mereka. Kupu-kupu dan bunga selalu menjadi teman sejati. Saling menolong, saling membantu sehingga saling menguntungkan dalam kehidupan mereka

TAMAT

Demikianlah Adik-adik sahabat Ka Cengeng, Dongeng Si Bunga dan Si Kupu kupu, semoga kita bisa mengambil pelajaran dari cerita dongeng diatas. Seperti biasa Ka Cengeng mohon maaf apabila ada kesalahan dan kekeliruan dalam tulisan ini, jangan lupa belajar ya dan sampai jumpa dalam pertemuan berikutnya, terima kasih.

dongengterbaru.blogspot.com

2 thoughts on “Dongeng Si Kupu-kupu dan Si Bunga – Bersama Ka Cengeng

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *