Dongeng Buaya Di Kadalin Cicak – Karya Ka Cengeng

Posted on

Dongeng Buaya Di Kadalin Cicak– Hallo..Adik-adik semua, tidak lupa kepada para Bunda tercintanya, jumpa lagi di sini bersama Ka Cengeng. Kacengeng berharap Adi-adik semua dalam keadaan baik dan tentunya selalu semangat dalam belajar demi manggapai masa depan. Kali ini Ka Cengeng akan menceritakan sebuah dongeng hasil karya Ka Cengeng sendiri yang berjudul Dongeng Buaya Di Kadalin Cicak, bagaimana ceritanya…??? yuk berangkaaat…!

 

Disebuah aliran sebuah Cidurian yang melintasi sebuah perkampungan yang bernama kampung Babakan, terdapatlah kehidupan berbagai macam binatang yang tinggal di pinggir sungai itu. Di antaranya ada buaya, kadal, ular, ikan , biyawak, musang dan masih banyak lagi yang lainnya.

Diantara binatang-binatang itu, terjadilah sebuah pertemanan yang kurang harmonis, antara Si Kadal dan Si Buaya, sebabnya adalah Si Buaya yang rakus memakan apa saja, tanpa mau berbagi dengan Si Kadal walaupun sedikit, padahal Si Kadal makannya cuma sedikit, karena tubuhnya kecil, walaupun di kasih makan sedikit saja sudah cukup buat Si Kadal untuk mengganjal perutnya. Namun karena Si Buaya ini sangat pelit terhadap si Kadal, jadi Si kadal tidak pernah dikasih makanan oleh Si Buaya walau hanya sedikit saja. Hal itulah yang melatar belakangi pertemanan mereka kurang begitu baik.

Pada suatu pagi yang cerah, di saat Si Buaya sedang berjemur di pingir sungai, tiba-tiba datanglah seekor ayam milik warga kampung babakan yang bermaksud mencari makan di pinngir sungai, karena di pinggir sungai banyak cacing-cacing kecil yang lezat untuk jadi santapan Si Ayam, maka sang ayam pun dengan asyiknya mematuk-matuk cacing dengan penuh semangat, dan tak memperhatikan keadaan sekitar.

Melihat hal itu tentu saja Si Buaya timbul insting berburunya dan akan memangsa ayam itu, ” Hmmmm…ini dia sarapan pagi buat saya, seekor ayam yang lezaaat…hehehe…” begitulah kata hati Si Buaya sambil mengendap-ngendap di belakang Si Ayam. Dan setelah sangat dekat, tanpa ragu lagi Si Buaya langsung menyergap Si ayam dengan sangat cepat. Dalam hitungan detik saja Si ayam sudah berada di mulut Si Buaya,  “Nyam..nyam..nyam..woow lezaaat dan mantap sekali rasanya ayam ini”, kata Si Buaya sambil mengunyah tubuh ayam di mulutnya.

Sedang asyik-asyiknya Si Buaya mengunyah tubuh si ayam, tiba-tiba datanglah Si Kadal sambil berlari, dan berteriak “Hei..Buaya..tolong jangan di habiskan semua,aku sangat lapar dari semalam belum makan, sisakan buat aku sedikit..” .”Enak saja kamu Kadal, usaha dong jangan minta terus, lagi pula inikan cuma seekor ayam, aku saja masih lapar, kamu malah minta, sudah pergi sana cari makan sendiri, mengganggu selera makan aku saja kamu” Jawab Si Buaya dengan ketusnya.

Mendengar hal itu, tentu saja membuat Si Kadal jadi tersinggung dan agak marah, karena yang dia minta itu cuma sedikit saja, dan tidak mungkin menghabiskan satu ekor ayam. Lalu Si Kadal berkata, “Hey buaya jangan serakah kamu, padahal aku cuma minta sedikit saja, akan aku beritahukan kamu kepada warga kampung, kalau kamulah yang suka memangsa ayam, bebek, angsa, kambing dan binatang ternak lainnya, supaya kamu di tangkap oleh penduduk kampung”.begitulah kata Si Kadal agak mengancam.

“Hahahaha..apa kamu bilang, mau memberitahu penduduk..? hahaha…Aku tidak takut..apa kamu lupa Kadal, kalau aku juga pernah memangsa manusia penduduk kampung ini, mereka tidak akan berani menangkapku, malah mereka takut terhadapku, aku yang berkuasa di sini..hahaha…dasar kamu kadal yang bodoh..!“Jawab Si Buaya dengan sombongnya. “Jangan sombong kamu buaya, tunggu pembalasan ku”, kata Si kadal tidak mau kalah. “Baiklah aku tunggu kadal kecil…hahaha..kadal kok mau melawan buaya..mimpi kali yeee…” Jawab Si Buaya sambil mengejek.

Hari demi hari terus berlalu, Si kadal terus memikirkan cara bagaimana bisa mengalahkan si Buaya, secara logika memang tidak mungkin SiKadal melawan Si Buaya, tapi rasa sakit hatinya pada Si Buaya, membuat Si kadal tetap bertekad ingin mengalahkan Si Buaya. Lalu dia teringat pada masa lalunya, sewaktu dia suka bermain ke pemukiman penduduk lalu bertemu dengan seekor cicak yang menjadi sahabatnya. “Aku harus menemui si Cicak, siapa tau dia tau caranya melawan Si Buaya, karena yang aku lihat Si cicak akalnya cerdik juga”, gumam Si kadal dalam hatinya.

Pada pagi yang cerah, Si Kadal telah bersiap berangkat menuju perkampungan di mana si Cicak sahabatnya berada. Sesampainya di pingir sungai Si Kadalpun di tegur oleh si Buaya yang sedang berjemur,“Weh..weh..weh..mau kemana kamu Kadal pagi-pagi begini sudah mau pergi, kayak sok sibuk saja, tidak punya sarapan ya,,, hahaha…” tegur si buaya penuh ejekan.”Aku mau ke perkampungan…!” Jawab Si Kadal singkat. “mau ngapain kamu ke perkampungan, kayak gak ada kerjaan saja”.Tanya Si Buaya agak penasaran.”Aku mau kemana, mau ngapain, itu bukan urusan kamu, dasar kepo kamu, memangnya kamu…, gak bisa pergi keperkampungan, coba saja kamu pergi keperkampungan, pasti kamu di tangkap oleh penduduk..kalau aku sih bebas mau pergi kemana aja, gak bakalan ada yang menangkap aku..”. Jawab si Kadal balas meledek.

Dengan langkah yang mantap Si Kadal pun pergi menuju ke perkampungan untuk menemui teman lamanya, yaitu si cicak. Jarak bibir sungai dengan perkampungan tidaklah begitu jauh, hanya sekitar 300 meter untuk ukuran manusia, tapi untuk ukuran seekor kadal tentu ukuran seperti itu cukup lumayan jauh. Setelah agak lama berjalan sampailah Si Kadal di perkampungan, lalu di mengarah kesebuah rumah dimana Si Cicak sahabatnya tinggal. Setelah sampai Si Kadal kepalanya mendongak keatas sambil mencari-cari kalau si cicak ada di atas, benar saja ternyata si cicak sedang berada di atas dinding sedang mengintai seekor nyamuk.

Disaat Si cicak akan menangkap nyamuk, tiba-tiba Si Kadal berteriak, “Hai…Cicak sahabatku….! ” Kontan saja Si Cicak kaget dan meloncat, hampir saja dia terjatuh saking kagetnya, dan nyamukpun terbang entah kemana. “Eeh.. Kadal buntung.. buntung kadal…ngagetin aja kamu….” Kata Si Cicak sambil agak latah karena saking kagetnya. Hehehe maaf ya kalau aku ngagetin kamu, habis kamu serius banget sih ngintai nyamuknya…hehehe”. Ujar Sikadal meminta maaf. “Iya enggak apa-apa kok, ada apa kamu kesini kadal, tumben-tumbenan main ketempatku..?”. Tanya Si Cicak. “Begini Cicak, sebenarnya aku lagi ada masalah nih dengan Si Buaya, tapi aku tidak tau harus bagaimana, aku tidak mempunyai jalan keluarnya, makanya aku datang ke sini untuk meminta bantuanmu”.kata si Kadal agak mengeluh.“Memangnya ada masalah apa kamu dengan Si Buaya itu, coba ceritakan padaku siapa tau aku bisa membantu”.Ujar Si cicak dengan penuh simpati. Kemudian Si Kadalpun meceritakan semua masalahnya kepada Si Cicak, dengan gamblang dan panjang lebar. “Nah jadi begitu ceritanya Cak, kamu bisa bantu aku tidak?..” Tanya Si kadal kepadaSi Cicak.

Setelah mendengar cerita dari Si kadal, Si Cicak jadi termenung, dia sendiri bingung, memang bagaimana mungkin Sikadal bisa mengalahkan Si Buaya, yang begitu besar dan kuat, apalagi dirinya cuma seekor Cicak yang ukurannya saja lebih kecil dari si Kadal, mana mungkin bisa melawan Si buaya.“Waduuuuh..berat juga masalah kamu Dal, rasanya aku sulit bisa membantu kamu, kamu pikir saja sendiri, walaupun kita berdua melawan Si Buaya rasanya tidak mungkin kita bisa menang, cuma sekali injak saja kita pasti mati oleh Si buaya…”. kata Si cicak dengan penuh pesimis. “Ya gimana dong Cak, ayolah bantu aku, bantu mikir ke apa ke, pokonya kamu harus bantu aku Cak..”Desak Si Kadal dengan nada memelas. “Ya ya ya ..kamu tenang saja pasti aku bantu kok”. Kata Si cicak menenangkan Si Kadal.

Si Cicak merenung memikirkan bagaimana caranya supaya dia bisa membantu sahabatnya Si kadal. Tiba-tiba Si cicak meloncat-loncat sambil berteriak kegirangan,“Hore..hore..aku tau aku tau..”. Si Kadal yang melihat kelakuan Si cicak jadi keheranan dan bertanya, “Kenapa kamu cicak, kaya orang ke girangan saja, kamu stress ya..??” “Aku tau..aku tau…aku tau bagaimana caranya kita bisa mengalahkan si bauay yang sombong itu…hahaha aku memang hebat..”. teriak Si cicak penuh dengan semangat. “Beneran kamu Cak, kamu yakin, gimana caranya..?” Sikadal bertanyan dengan penuh rasa penasaran. “Ya udah sekarang begini saja Dal..kamu sekarang pulang dan bilang sama si Buaya, bahwa besok, para penduduk kampung sudah menyediakan banyak sekali kambing yang gemuk-gemuk, yang akan di persembahkan untuk buaya, biang saja sama si buaya, bahwa penduduk kampung sangat takut sama buaya, makanya mereka menghadiahkan kambing-kambing mereka untuk si buaya, agar si buaya tidak mengganggu penduduk lagi yang pergi kesungai, dan tidak memakan makan ternak para penduduk”.kata si Cicak menjelaskan rencananya kepada Si kadal. “Maksudnya apa nih Cak, aku masih kurang paham rencana kamu apa”Kata Si kadal dengan nada bingung. “Sudahlah kamu jangan banyak tanya, pokoknya kamu lakukan saja apa yang aku perintahkan tadi, nanti besok kamu akan melihat hasilnya, percayalah padaku, ini akan berhasil”. Jawab sicicak meyakinkan Si Kadal. “Baiklah kalau begitu, aku percaya padamu, terima kasih ya Cak kamu mau membantuku, aku pulang dulu ya, aku menemui Si buaya untuk mengatakan apa yang kamu katakan tadi.” Kata sikadal sambil berpamitan.“Baiklah sobat semoga berhasil”. Kata Si cicak.

Lalu kemudian Si kadalpun pulang menuju tempat kediamannya ke pinggir sungai Cidurian, di sepanjang perjalanan si kadal terus memikirkan tentang rencana si cicak yang di anggap membingungkan dan tak masuk akal, “bagaimana caranya si cicak bisa mengatakan hal demikian, kalau besok para penduduk kampung sudah menyediakan kambing yang banyak untuk si buaya, ah gak ngerti aku, jalan pikiran si cicak ini, tapi ya sudahlah, mudah-mudahan saja ini bisa berhasil” begitulah kata hati si kadal yang masih merasa bingung dengan rencana si Cicak.

Sesampainya di pinggir sungai, dari kejauhan sudah terlihat si Buaya sedang tiduran sambil mengibaskan ekornya yang tajam. Melihat hal itu, si Kadal langsung menghampiri si Buaya. “Hehehe..eh kamu kadal sudah pulang dari perkamupungan…ngapain kamu deketin saya, mau minta makan ya….hahaha…”.Kata si buaya yang langsung meledek si kadal, dengan kata-kata yang kurang enak di dengar. Sebenarnya si kadal tersinggung dengan kata-kata si buaya tadi, namun si kadal berusaha untuk menahan emosinya, agar rencananya bisa berhasil. “Tidak..aku tidak mau minta makan sama kamu, aku sudah makan tadi di perkampungan, justru aku kesini mau memberi kamu makan”. Jawab Si Kadal dengan santai. “Wellleeeh…?..kamu mau ngasih aku makan..? hahaha..apa aku gak salah dengar..?” Tanya si buaya. “Tidak..kamu tidak salah dengar aku mau ngasih kamu makan dengan makanan yang lezaaat”. Jawab Si kadal. “Kamu ini jangan ngawur kadal, lah kamu mau makan saja selalu minta melulu sama aku, sekarang kamu mau ngasih makan sama aku, hahaha..aku gak bakalan percaya sama kadal bodoh kayak kamu..hahaha..”. Kata si buaya yang terus-terusan mengejek si kadal. “Ya sudah kalau kamu gak percaya, nih aku kasih tau sama kamu ya, aku ini baru saja pulang dari perkampungan, aku mendengar informasi bahwa pada hari esok, penduduk kampung akan memberi kamu hadiah berupa kambing yang banyak dan gemuk khusus buat kamu”.Kata si kadal mulai menarik perhatian si buaya. “Ah..yang benar kamu Dal, kamu tidak sedang berbohong kan..? apa maksudnya para penduduk kampung itu memberi aku hadiah makan yang begitu banyak..kayaknya aneh.deh..? “.Kata Si buaya mulai penasaran.

Maka Si kadal pun mulai mengatakan kepada si buaya, apa-apa yang sudah dikatakan si cicak. “Begini buaya, aku bilangin ya sama kamu, aku mah walaupun dipelitin sama kamu, tapi aku gak bakaln pelit sama kamu. Sebenarnya para penduduk itu takut sama kamu, makanya mereka bermaksud ingin memberi hadiah sama kamu, sebagai rasa hormat mereka sama kamu, mereka berharap kalau kamu menerima hadiah dari para penduduk, kamu tidak lagi mengganngu penduduk yang mandi, nyuci dan bermain di sungai, dan tentunya supaya kamu tidak lagi memakan binatang ternak mereka…nah begitulah maksudnya para penduduk memberi hadiah padamu..”. Kata si kadal menjelaskan. “Huuuhahahha..apa aku bilang…hahaha..mereka penduduk kampung semuanya takut padaku..aku memang penguasa di sini..hahaha baiklah aku akan terima hadiah dari mereka…di mana mereka menaruh hadiah itu kadal, aku akan segera mengambilnya”. Si buaya tertawa senang dan merasa makin sombong saja.“Tenang sabar dulu..tenang saja..hadiahnya gak bakal kemana-mana..hadiahnya besok pagi-pagi agak siangan sedikit, kamu pergi ke alun-alun kampung, di sana sudah ada hadiah kambing yang banyak dan gemuk yang sudah diikat, yang sengaja khusuh buat kamu, yang penting kamu jangan sampai kesiangan besok”. Ujar si kadal. “Baiklah kalau begitu, besok aku akan pergi ke alun-alun kampung…hahaha..terima kasih ya kadal..ternyata kamu baik juga ya..hahaha…”. Kata sibuaya sedikit memuji si Kadal.

Singkat cerita, waktu yang di nantipun tiba, pagi itu cuaca sangat cerah, secerah hati Si Buaya yang akan mendapat hadiah. Sambil bersenandung ceria si buaya berjalan di bibir sungai, “Lalala..lalala…aku dapat hadiah…lalala..lalala..”. Si buaya memang licik, dia mau pergi sendirian ke perkampungan, di dalam hatinya dia berkata, “Akan aku makan semua hadiahku sendirian, dan gak akan aku kasih sedikitpun pada si kadal, enak saja aku yang dapat hadiah, dia cuma minta doang maunya”. Si Buaya juga berpikir masa bodoh kepada penduduk kampung, walaupun misalnya benar penduduk kampung memberinya hadiah, dia akan tetap memakan hewan ternak dan tetap akan mengganggu penduduk yang pergi kesungai. Sungguh buaya yang licik, jangan di tiru ya Adik-adik.

Dengan langkah penuh semangat sambil setengah berlari, si Buaya bergegas pergi ke alun-alun  kampung, untuk mengambil hadiah yang sudah di janjikan. Sesampainya di sana, benar saja, mata si buaya terbelalak melihat banyaknya kambing yang besar dan gemu-gemuk yang terikat pada beberapa patok. Sambil membuka mulutnya yang lebar, Si buaya berkata, “Waaaah…benar apa yang di katakan si kadal, banyak banget hadiahnya, bisa buat makan setahun nih”. Begitu kata si buaya, sambil air liurnya mengalir deras dari mulutnya. Si buaya perlahan mendekat, “Welleh..welleh..jadi bingung, mana dulu ya yang aku makan..?” Si buaya kebingungan.

Dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba ada anak kecil berteriak, “Ada buaya…ada buaya..ada buaya..!”. Kontan saja para penduduk yang memang sedang berkumpul di alun-alun kampung terperanjat  kaget, dan segera mengambil peralatan masing-masing, ada yang mengambil jaring, kayu, bambu, ada juga yang mengambil tali tambang yang besar. Namun si buaya tenang saja, dia yakin kalau semua kambing itu adalah hadiah untuknya, adapun ada anak kecil berteriak, itu hal biasa, wajar namanya juga anak kecil pasti takut melihat buaya, pikir si buaya dalam hatinya. Lalu diapun terus mendekati salah satu kambing yang paling besar.

Pada saat posisi si buaya sudah sangat dekat dengan kambing itu, kemudia si buaya membuka mulutnya lebar-lebar, namun sebelum si buaya menyantap kambing itu, tiba-tiba…Bruks..sebuah jaring besar menutup tubuhnya, tentu saja si buaya kaget, dan tidak sempat meloloskan diri, tidak lama kemudian, sebuah karung goni yang besar masuk kekepalanya, kontan saja si buaya tidka bisa melihat, dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena tubuhnya terlilit jaring yang kuat dan matannya tertutup karung goni. Lalu kemudian para penduduk yang memang banyak jumlahnya mengikat kaki depan dan belakang si buaya dengan tali tambang. Dalam keadaan seperti itu, si buaya hanya bisa pasrah dan kalah. Namun dia tak habis pikir, kenapa para penduduk ini menangkap dirinya, padahal menurut si kadal para penduduk takut sama dirinya, kok mereka malah berani menangkapnya, lalu bagaimana dengan hadiahnya?

Para penduduk bersorak gembira, karena mereka berhasil menangkap Buaya yang selama ini menganggu kehidupan para penduduk kampung, mereka tidak tenang kalau pergi kesungai untuk mandi dan cuci, hewan ternak mereka habis di makan buaya. Sekarang para penduduk sudah bisa tenang kembali, dengan tertangkapnya buaya itu.

Dalam kesempatan itu ternyata, Si kadal dan Si cicak juga telah ada di tempat itu, menyaksikan bagaiamana si buaya di tangkap penduduk. Kemudian si Kadal berkata,“Wah..hebat kamu cicak, aku tidak menyangka rencanamu berhasil, tapi aku masih bingung, sebenarnya ada apa para penduduk itu menyediakan kambing yang sehat dan gemuk sebegitu banyaknya di alun-alun kampung “. Kemudian Si cicak menjawab, “Begini kadal…sebenarnya hari ini adalah hari raya idul adha atau hari raya kurban untuk umat Islam, dan semua penduduk disini semuanya beragam Islam, makanya mereka merayakan hari raya ini dengan menyediakan banyak kambing untuk kurban, nah kesempatan ini aku manfaatkan untuk memancing si Buaya itu untuk datang kemari, seolah-olah kambing itu di hadiahkan untuk si buaya, padahal bukan, dan kamu lihat sendiri kan hasilnya…Kita berhasiiill…”. Sambil melongo sikadal berkata, “Ooooo..Jadi begitu..aku baru paham sekarang, dengan apa yang kamu katakan kemarin…kamu benar-benar hebat Cak, ini sih namanya Buaya di Kadalin Cicak…wakakakakak…”.

Sementara itu Si buaya yang sudah terikat, menjadi tontonan warga, kemudian salah seorang warga melepas karung yang menutupi kepala si buaya, karena ingin melihat muka buaya yang suka mengganggu penduduk itu, setelah karung itu di buka, maka si buaya pun bisa melihat kembali, dan si buaya pun melihat si kadal yang tak jauh dari tempat dia di ikat. “Hey..kadal..dasar kamu ya..pembohong, penipu, kamu sudah menjebak aku..ya..?”.Si buaya berteriak. “Maaf buaya, itu lebih baik buat kamu dan buat para penduduk kampung, soalnya kamu sudah membuat warga kampung dan penghuni sungai resah, lagi pula para penduduk itu tidak akan membunuhmu, mungkin kamu akan di serahkan ke kebun binatang, dan kamu akan jadi tontonan banyak orang, itulah akibatnya kalau kamu serakah, sombong dan sok berkuasa, ingat buaya jangan kamu anggap yang kecil itu lemah, sekarang buktinya kamu sudah kalah oleh aku sikadal yang kamu anggap lemah”. Kata sikadal kepada si buaya, Si Buaya hanya terdiam, dia tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya bisa pasrah, walaupun penduduk kamping tidak membunuhnya, dan akan membawanya ke kebun binatang, namun tetap saja si buaya tidak mau seperti itu, sebab dia akan merasa di penjara, tidak seperti hidup bebas di alam liar, tapi apa mau di kata, dia harus menebus segala kesalahannya.

Sejak saat itu kehidupan penduduk kampung menjadi tenang dan damai, mereka tidak khawatir lagi kalau pergi kesungai untuk mandi,cuci dan keperluan lainnya, anak-anak juga bebas berenang, bermain air dan bergembira. Begitu pula dengan binatang lain penghuni sungai, mereka merasa aman dan nyaman karena sudah tidak ada lagi si Buaya yang serakah dan suka mengganggu mereka.

TAMMAT

Demikianlah Adik-adik cerita dari Dongeng Buaya di kadalin Cicak, semoga dalam cerita dongeng ini ada hikmah dan pelajaran yang bisa kita ambil. Tetap semangat belajar dan jadilah anak pintar, Ka Cengeng minta maaf bila ada kesalahan dan kekeliruan dalam artikel ini, terima kasih.

Nb : Judul dan Isi artikel ini, asli buatan Ka Cengeng sendiri, di larang keras untuk mencopinya, bila ingin menyebar luaskan, mohon untuk mencantumkan link sumber dan nama pengarangnya. terima kasih atas perhatian dan dukungannya.

 

 

 

 

 

2 thoughts on “Dongeng Buaya Di Kadalin Cicak – Karya Ka Cengeng

    1. Mohon dukungan positifnya, supaya kami tetep semangat demi menambah wawasan dan khasanah dongeng di Indonesia, makasih bunda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *